Dalam hal ini, saya ingin sharingkan satu hal khusus untuk sahabat-sahabatku yang memperhatikan jalannya kehidupanku mengenai bagaimana indahnya Rencana Tuhan dibalik setiap kejadian yang saya alami di dalam kehidupan saya. Pada dasarnya setiap peristiwa manis maupun pahit, pasti ada Rencana Tuhan dibalik itu semua, dan Rencana Tuhan itu sangatlah indah untuk kita nikmati. Pembentukan karakter, mental, pandangan hidup dan pendidikan itu pahit, tetapi buahnya manis.
Sebagai pembuka, pertama-tama saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Tuhan Yesus Kristus yang selalu menjaga, merawat, memimpin, dan sebagainya dalam hal kehidupan, serta telah menyelamatkan saya dari dunia yang fana ini dan mengubah saya menjadi sesosok manusia baru. Kedua saya ucapkan terima kasih untuk orang tua saya sebagai wakil dari Tuhan yang telah bekerja keras untuk menghidupi saya dan mendidik saya menjadi seorang manusia. Ketiga saya berterima kasih kepada guru yang telah memberikan teladan dalam hal bersikap kepada saya. Terakhir saya berterima kasih kepada sahabat-sahabat saya yang selalu mendukung saya dalam hal kehidupan ini.
Dulu saya adalah orang yang bisa dikatakan tidak bisa bergaul, sosialisasi yang buruk dan bisa dibilang sesosok yang menyebalkan dalam lingkungan sosial karena hal-hal buruk. Hal ini dikarenakan saya terpengaruh dan jatuh kedalam dunia game sewaktu kecil, setiap waktu luang, bahkan waktu belajar diisi oleh game. Gawatnya, game yang saya mainkan saat kecil adalah game untuk 18 tahun ke atas (Bayangkan, saya sudah bermain Counter-Strike sejak kelas 2 SD). Sehingga hal tersebut memprogram otak bawah sadar saya dengan hal-hal kekerasan, hal keegoisan, hal-hal buruk lainnya. Tidak menjadi manusia, tetapi hanya sebagai penggila game, penggila hal-hal yang tidak memiliki interaksi dengan manusia lainnya, dan karena hal tersebut membuat saya sering berkelahi dengan anak-anak sebaya saya.
Menjalani hidup sebagai orang “freak” dari kelas 2 SD hingga kelas 5 SD tidaklah mudah. Karena tidak memiliki teman, hanya musuh di mana-mana, serta dijauhi rekan-rekan karena saya berbeda sikap dengan anak-anak yang lain. Akhirnya, karena keinginan orang tua saya melihat perkembangan saya, saya dipindahkan sekolah dari sekolah Plus ke sekolah Reguler, membuat saya harus beradaptasi dan berkenalan dengan teman-teman baru. Disadarkan oleh sosialisasi, Sudah ada tekad dalam diri saya untuk merubah diri saya 180 derajat dan melupakan kejadian masa lalu serta berpandangan terus ke depan untuk lebih baik lagi. Ternyata saya berhasil memutar diri saya, tetapi masih belum mencapai target. Perubahan sikap dan hal dalam bertingkah serta pola pikir sudah terlihat. Hal dalam empati, simpati serta toleransi sudah terbentuk. Karena dari pergaulan papan atas ke pergaulan pertengahan serta menengah ke bawah, membuat mata saya terbuka dan melihat bagaimana dunia itu sebenarnya.
Lulus SD masih kekanak-kanakan dibina masuk ke SMP. Saat itu berdiri Science Club SMA, oleh papi saya dimasukkan program robotik, ternyata progressnya bagus dan langsung mencetak juara pertama kali dalam kurun waktu 2 minggu. Sehingga robotik menjadi program rutin bagi anak-anak SMA setiap hari Senin. Dari sana saya mulai berpikir bahwa saya sebagai anaknya pasti bisa, tetapi terhalangi oleh kepribadian lama saya, saya paling “anti” kalau orang tua bertemu dengan teman atau guru, saya langsung jaga image. Akhirnya, saya dipaksa papi secara tersirat dengan perkataan “Ga ada yg nge-jemput sekolah hari Senin, kalau mau ikut papi, daripada nunggu sampe jam 3 ga ada kerjaan, lebih baik ikut robotik, kenalan, gaul sama kakak-kakak kelas.” Karena dipaksa akhirnya saya mengikuti program tersebut dikelilingi oleh anak-anak umur 16-18 tahun, saya umur 11 tahun waktu itu. Setelah satu semester program tersebut berjalan, saya masih takut untuk berbicara dengan kakak kelas. Karena hal itu akhirnya saya mengajak rekan untuk mengikuti dan mendampingi saya yaitu sahabat-sahabat saya kini: Ricky, Andre dan Yoses.
Mulai dari belajar komponen-komponen dasar, memasang komponen di breadboard dan memadukannya dengan programming mikrokontroler seperti membuat LED nyala dan mati, terakhir saya dan rekan membuat mainan mobil-mobilan yang dikontrol dengan mikrokontroler. Bayangkan, anak kelas 7 sudah bermain dengan mikrokontroler pada saat itu, wow! Setelah sekian lama bermain mikrokontroler, satu sahabat saya Yoses mengundurkan diri dari ranah permainan ini. Karena hal itu, saya tersadar akan sikap saya yang kurang bersahabat, kurang bisa bekerja sama, egois. Saya mulai memperbaharui diri dengan membangun kerja sama antar individu, menghargai setiap pendapat dan menghargai orang lain. Karena sudah lumayan dalam bermain mikrokontroler, saya akhirnya diajak ke ranah robotik oleh papi saya. Awal perkenalan dengan LEGO, mengajak saya untuk mengikuti kompetisi. Konstruktor handal kami, Andre membangun robot yang dahsyat dan kreatif. Lalu bagian programming saya dan support teknis Ricky. Berhasil mencetak peringkat ke 4 di sebuah kompetisi nasional tahun 2007. Kami sebenarnya pemenang karena istilahnya, kalau senjata kami diberitahu hanya boleh pakai pistol, ternyata yg juara 1,2,dan 3 memakai machine gun. Ternyata mis-understanding antara panitia dan pihak kami. Saya ingat setelah pertandingan papi saya, Ibu Susanti, Pak Timmy, dan Pak Yoseph menyalami kami dan berkata “Good! Hebat! Kalian tetap adalah juaranya!”
Sangat menyentuh hati, dari sana saya belajar inilah dunia, inilah kompetisi, inilah cara bagaimana agar kita bisa survive. Teringat saat masa-masa latihan menjelang pertandingan tadi, saya dan rekan-rekan belajar bagaimana bersosialisasi dengan anak-anak SMA, mata kami juga terbuka akan dunia remaja yang sebelumnya kami blank akan hal tersebut. Kembali ke laptop, setelah pertandingan tersebut kami menjadi lebih akrab satu sama lain, karena masuk RCTI serta koran Tempo juga, kami menjadi sedikit lebih “eksis”
.
Setelah itu kami berkumpul dengan anak-anak robotik yg SMA layaknya seperti saudara, semua saling berbagi, canda tawa menyelimuti kita semua, teringat akan hal itu angkatan pertama seperti: Wisnu, Theo, Bryan (Wewey), Caroline, Henry James, Leon, Ci Ive. Semua kompak, sangatlah indah! Hal-hal tersebut benar memanusiakan saya. Setelah event tersebut berlalu anak-anak kelas 2 SMA sudah naik ke kelas 3 SMA, tandanya untuk mengucapkan salam perpisahan, karena keputusan kepala sekolah memutuskan untuk fokus ke UN. Tersisa Leon, Ci Ive masuk anggota baru seperti David, Steven, Eric Christiandi dan Eric Andreas (Gemblong).
Rancangan Tuhan, rancangan penuh pengharapan, rancangan yang tidak diketahui oleh kita, tetapi kita tahu itu sangat baik dan dahsyat bagi kita semua. Tuhan Yesus mengasihi kita semua dari sekarang sampai selamanya
!




Si Ganteng dari padepokan, itulah julukan yang saya berikan untuk robot buatan saya dan tim yang berlaga di Kontes Robot Maranatha 2011. Persiapan membuat robot ini sangatlah berkesan, dan pastinya akan melekat dalam memori seumur hidup saya. Tiga minggu dihabiskan “jungkir-balik” untuk membuat robot ini. Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit, setara dengan Blackberry Torch 2 sebagai pembanding
Sedikit mengutip dari situs berita favorit saya: http://www.detik.com (bukan promosi 










